Selasa, 05 Februari 2013

HIDUP YANG BELAJAR

Hidup, Belajar, dan Mengabdi :
QS.51:56 :”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka meng-abdi kepada-Ku”. Karena memang tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi, maka Hidup Yang Mengabdi adalah persoalan efektivitas. Sebagai indikatornya (tanda bukti), maka untuk menebus keberhasilannya (pada waktu sudah menjadi sesalan) adalah segalanya selain dirinya (sekiranya bisa), seperti disebut pada QS.70:11 – 15. Sedangkan kaitan antara Mengabdi  dengan Belajar ialah persoalan efisiensi, di mana Mengabdi ada-lah pokoknya (variabel-tetap) dan Belajar sebagai variabel-bebasnya, terlihat dari maksud QS.58:11 :”Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”.
 
Dari tinjauan sistem-jiwa, yaitu hati (mau), akal (tahu), dan mar’i (mampu), maka Allah tidak menuntut manusia apa yang di luar tahu-nya dan di luar mampu-nya, tetapi tidak alasan untuk tidak mau-nya. Jadi persoalan Mengabdi adalah keharusan (ikhlas), sedangkan persoalan Belajar adalah hanya dituntut sebatas tahu dan mampu-nya saja (QS.2:286). Tetapi Allah Maha Mengetahui sampai di mana batas tiap-tiap orang tentang itu, maka janganlah kita tidak mau-tahu (tidak mau belajar).
Disimpulkan, bahwa dalam penilaiannya itu tergantung pokoknya, maka barulah ilmu berperan mempertajam /mempertinggi beberapa derajat sesuai kemampuannya. Dan bukan dibalik, terbukti dengan makna QS.29:69 bahwa siapa saja (meskipun non-Islam) yang bersungguh-sungguh pasti diberi jalan ilmu, namun bila tidak diteruskan sampai ke asal ilmu, yaitu Allah (ber-arti masuk Islam), maka Allah tidak menyertainya lagi (berarti hanya diambil nilai dunia-nya saja). Kesimpulannya : Mengabdi Yang Belajar (bukan belajar yang mengabdi).

Mengabdi adalah mematuhi aturan Allah dengan keputusan sendiri, artinya ikhlas karena mengerti (secara ilmiah memang harus demikian). Belajar dalam konteks ini meliputi teori dan prakteknya, atau melibatkan ketiga bagsis dalam sistem-jiwa (akal, hati, dan mar’i). Keputusan sendiri (mar’i sendiri) artinya tidak bertaklid, ikhlas hatinya sepenuhnya karena Allah, sepanjang dimengerti oleh akalnya (bukan karena segan kepada tetangga atau kepa-da pemimpin dsb). Patuh hanyalah kepada Allah dan kepada Rasulullah s.a.w, sedangkan mengikut kepada pemimpin hanya apabila sesuai aturan Allah dan Rasul, dan wajib (far-dhu kifayah) memberi koreksi secara standar apabila pemimpin itu melakukan kesalahan. 

Mengabdi terus maka Belajar terus :
Karena tujuan penciptaan manusia itu adalah memang untuk pengabdian, maka tidaklah logis kalau dikatakan hanya mengabdi selama di dunia saja. Kecuali karena waktunya hidup di dunia itu relatif sangat singkat (bila dibandingkan dengan hidup di akhirat yang kekal), tetapi juga karena seperti dikatakan dalam QS.29:64 bahwa akhirat itu adalah kehidupan yang sebenarnya (yang tentu saja adalah mengabdi kepada Allah). Jadi kalau demikian, maka pengabdian itu akan berlangsung seumur hidup di dunia, dan di akhirat juga

Mengenai kontinuitasnya belajar itu sendiri nampak dari penghargaan Allah seperti pada QS.2:154 dan QS.3:169 bahwa orang yang mati dalam dinamika perjuangan (belajar ilmu adalah jihad) di jalan Allah itu dikatakan sebagai tidak mati (tetapi manusia hidup tidak  melihatnya). Sebaliknya pada orang yang menghentikan proses belajarnya akan tumbuh image merasa dirinya cukup (suatu benih kesombongan), berlawanan dengan maksud pada QS.32:9 :”Sedikit sekali kamu bersyukur” yang dalam konteks ini dapat diartikan dengan sedikit sekali kamu belajar.   

Pengabdian dengan Teknologi Spiritual :
Di dalam berbagai labor (kimia, pertanian, industri bermacam jenis), maka banyaknya ulangan percobaan adalah untuk mempertinggi tingkat kepercayaan (kepastian, objektivi-tas) terhadap sesuatu hasil percobaan yang bersangkutan. Dalam hal teknologi duniawi seperti itu maka orang sangat objektif, tetapi apakah bersikap yang sama pula dalam hal “percobaan labor spiritual”? Jawabnya jelas “tidak”, maka tepat sekali bahwa Allah mem-beri kritik penuh kasih sayang dalam QS.32:9 tsb. di atas :”Dan Dia  menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan af-idah. Sedikit sekali kamu bersyukur”. Adapun pen-dengaran, penglihatan dan af-idah itu adalah sarana belajar (bagi manusia sebagai sebaik-baik bentuk dimaksud pada QS.95:4), maka kritik tersebut dapat diartikan “Sedikit sekali kamu belajar”, atau “Sedikit sekali kamu melakukan ulangan percobaan”.

Sesungguhnya petunjuk/perintah Al Quran atau hadits itu adalah seperti layaknya paket percobaan labor, sehingga aplikasinya adalah pengabdian jika dilihat dari niatnya, sedang-kan dilihat dari proses intelektualitasnya, maka aplikasi tersebut adalah suatu tahap dari siklus belajar. Ada 4 tahap dalam siklus belajar, yaitu penerimaan masalah, informasi atau petunjuk (tahap-1), tahap-2 ialah menemukan referensi dan memutuskan niat, tahap-3 ialah pelaksanaan niat, dan tahap-4 ialah mengambil pelajaran (menerima hikmah). Hal ini merujuk pada QS.3:138 :”Inilah (Al Quran) suatu informasi bagi manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”. Suatu informasi yang diperoleh akal dari  membaca atau mendengar ceramah, dan dalam waktu relatif lama tidak diaplikasikan, maka tetap menjadi pengetahuan (teoritis, kognitif). Tetapi jika diaplikasikan, maka barulah menjadi ilmu bagi orang itu (pada aspek belajarnya) dan menjadi amalan (dari aspek pengabdian). Pada sisi sistem-jiwa maka hal itu dibaca sebagai : dimengerti dengan logika oleh akal, dialami oleh hati sebagai perasaan/emosi (seberapa menyenangkan atau tidaknya), dan juga dirasakan oleh mar’i (seberapa memberi kesan ketenangan atau ketakutan). Jadi belajar di sini artinya meliputi : pengertian (akal), pengalaman hati, dan kesan (hikmah) pada mar’i.

Demikianlah yang seharusnya dijalani sebanyak mungkin (QS.32:9), dengan menggunakan ayat atau hadits yang relevan sebagai informasi (stimulus, referensi), sebagai pembekalan untuk tahap baru berikutnya (di akhirat), agar berhasil dengan baik. Tanda orang belajar ialah dapat mengambil pelajaran dari proses yang lalu sebagai landasan keyakinan yang ilmiah untuk menerjuni tahap baru. Itulah yang dimaksud dengan iman atau ‘ilmal yaqiin (QS.102:5). Jadi iman merupakan pengertian (logika), kekuatan emosi dan macamnya, ketegasan sikap dalam mengambil keputusan untuk hal baru (tertentu) yang mendatang berdasarkan hikmah yang telah diperoleh sebelumnya.

Mengenai persoalan iman, Al Quran menyatakan bahwa jika Allah kehendaki, maka bisa saja beriman seluruh manusia. Tetapi itu menurut Allah adalah suatu paksaan, maka Allah tidak melakukan hal itu (QS.10:99). Allah memberikan kebebasan kepada manusia (seba-gai khalifah dan sebagai abdi), namun kebebasan itu di sisi Allah mengandung tanggungja-wab yang besar (QS.10:100). Hal ini menambah jelasnya alasan mengapa manusia itu  harus belajar. Namun timbul pertanyaan, jika dalam Pengabdian itu sudah terdapat sisi Belajar-nya, lalu apa lagi perlunya dikemukakan konsep Hidup Yang Belajar ini? Manfaat konsep Hidup Yang Belajar itu dikemukakan ialah sebagai wujud adanya kesadaran yang tinggi dan kesengajaan yang besar untuk meningkatkan intensitas belajarnya dengan niat pengabdian kepada Allah SWT sesuai yang dimaksudkan dalam Al Quran dan hadits (pengabdian yang ilmiah). Banyak orang mengalami berbagai hal, tetapi tidak belajar apa-apa dari pengalaman hidupnya itu (kecuali sedikit barangkali) . Dalam banyak ayat terda-pat kalimat penutup ayat yang berbunyi :”tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.30:6, 30, QS.40:57, dsb).

Metoda Belajar Rasulullah s.a.w. :
QS.55:1-2 :”(Allah) Yang Maha Pengasih, telah mengajarkan Al Quran”. Maka bagaima-na caranya? Ada kalimat yang diulang dua kali dalam QS.73:20 :”Bacalah apa yang mudah dari Al Quran”. Maknanya ialah kerjakan apa yang paling mudah lebih dahulu (dari Al Quran). Tetapi, bagaimana kita tahu mana yang paling mudah itu? Maka Allah memberi kepada setiap orang masalah yang berbeda satu dari yang lain, dan dari waktu ke waktu. Hal itu merupakan kurikulum individual di Universitas Kehidupan ini. Masalah itulah yang membawa orang yang bersangkutan kepada ayat referensinya masing-masing untuk masa itu. Maka itulah ayat yang paling mudah saat itu bagi orang itu untuk diapli-kasikan (karena sedang dibutuhkan), guna merespon masalah tsb.

Karena itu maka cara yang demikian itu disebut sebagai metoda kontekstual (ingat istilah asbabun nuzul) dalam hal menafsirkan ayat-ayat Al Quran. Kita mengikuti metoda yang ditempuh oleh Rasulullah s.a.w. tentu saja dengan perbedaan tertentu secara gradual dsb. (QS.25:32-33). Sementara itu dalam hal belajarnya, maka dengan mengaplikasikan ayat-ayat referensi itu juga merupakan metoda belajar yang disebut Learning By Experiencing (Belajar Dengan Mengalami). Mungkin saja ada cara lain, maka jika pembaca berkenan sudi kiranya disampaikan untuk menambah pemahaman kita bersama. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih banyak.

Bersama membangun unit-unit jariyah :
QS.53:39 :”Dan bahwa bagi manusia hanyalah apa yang diusahakannya”. Maksudnya, bahwa setiap orang harus mandiri, yaitu bertanggungjawab terhadap segala persoalannya sendiri. Namun hal itu tidak diartikan secara harfiah, melainkan dalam arti nilai (tukang sepatu juga dapat memperoleh beras, sayur, baju, dsb. senilai sepatu yang dihasilkannya). Hal itu dimungkinkan karena adanya sinergi dari tukar menukar produk antar anggota masyarakat (telah dimudahkan dengan penggunaan mata uang) yang berlaku mutlak (itulah perniagaan). Jika terjadi bencana alam atau peperangan yang mengganggu jalannya pernia-gaan, maka kehidupan penduduk yang bersangkutan akan menjadi sulit (tergantung penga-ruh isolasinya).

Tetapi bagaimana pula halnya yang terjadi dalam hal ilmu? QS.103:1-3 :”Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran”. Analoginya, bahwa saling berwasiat di situ ialah saling menjual (ilmu : pengalaman, ke-san, pendapat) yang dalam kehidupan ekonomi maksudnya menjual barang modal, seperti bus atau truck bagi perusahaan transportasi, mesin jahit bagi penjahit, motor bagi tukang ojek, dsb. Sedangkan beramal saleh pada ayat itu ialah seperti : bersikap ramah, suka menolong, pemaaf, menghargai/menghormati orang lain, yang dalam ekonomi analog dengan menjual barang konsumsi (makanan, pakaian, perabot rumah, motor untuk keluar-ga, dll), yaitu yang menyenangkan dan tinggal menikmati. Nampak di situ bahwa tindakan produktif (berwasiat) supaya diintensifkan (dengan predikat : saling), sebaliknya tindakan konsumtif itu hanya searah, yaitu kita lakukan saja tanpa mengklaim orang lain agar berbuat baik kepada kita. Tetapi memang kebanyakan orang dihinggapi penyakit ini (konsumerisme) : pada sisi ekonomi adalah boros (QS.25:67), sedangkan pada teknologi spiritual adalah sombong, gengsi, gila hormat, atau dibungkus dengan formalitas tertentu. Semuanya itu berlawanan arah dengan sikap produktif. Konsumerisme membawa kerugi-an, sedangkan sikap produktif membawa keberuntungan.

Berdasarkan analogi tersebut di atas, maka kiranya dapat diterima gagasan untuk memben-tuk semacam “pasar ilmu”, yaitu berupa kelompok-kelompok diskusi yang bisa terdiri atas para jamaah masjid, para anggota majelis taklim, para alumni tertentu, para pegawai perusahaan atau instansi pemerintah, dsb. Ciri khas pasar-ilmu tersebut adalah intensitas yang tinggi dari “saling menjual” pengalaman (pendapat, kesan) dari setiap pribadi anggo-ta kelompok diskusi ybs. secara bergilir sedemikian rupa, sehingga mendorong setiap pri-badi itu untuk mandiri, khususnya dalam Hidup Yang Belajar ini. Sementara metoda searah dengan mendengar ceramah adalah seakan-akan belanja (membeli) ilmu secara terus-menerus tanpa menjual, tidak memberikan dorongan untuk mandiri.

Kemudian dengan saling bertukar pengalaman (pendapat, kesan) itu maka masing-masing pribadi mendapat kesempatan yang baik untuk mengambil materi sesuai kebutuhannya untuk melengkapi teknologinya (membangun dirinya sebagai unit jariyah). Sedangkan materi yang dijualnya dan dimanfaatkan oleh orang-orang lain itu merupakan investasinya  pada pembangunan unit-unit jariyah yang lain (tetangganya) yang tentunya menghasilkan “fee” bagi si investor tersebut (meskipun si investeor itu sudah meninggal). Maka demiki-anlah “pasar-ilmu” merupakan cara bekerjasama membangun unit-unit jariyah (pribadi-pribadi yang bertaqwa) yang cukup efektif, seperti dimaksud pada QS.5:2 :”Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbu-at dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. Tolong-menolong maknanya timbal-balik (saling menolong). Dalam satu hal si A lebih mengetahui, tetapi dalam hal lain mungkin si B yang memimpin. Tanpa mengisi dengan kesengajaan yang besar untuk kebaikan dan taqwa (seperti membangun “pasar-ilmu”), maka kehidupan akan menjadi pasar gengsi dengan sendirinya yang akan diramaikan dengan saling balas yang menyulut permusuhan. To be or not to be.

1 komentar: