Sabtu, 26 Mei 2012

SISTEM JIWA



Substansi jiwa :
Jiwa terdiri atas tiga macam substansi batiniah, yaitu hati (nafsu syahwat), akal, dan mar’i (nafsu ammarah).

Profil sistem-jiwa:
Jiwa merupakan sistem sinergis (kelompok kerjasama, gabungan) yang tersusun dari ketiga substansi tersebut di atas, di mana akal sebagai standar sistem, mar’i sebagai pimpinan sistem pengambil keputusan, dan hati sebagai pemrakarsa (inisiator). Guna memudahkan pembahasan, maka sistem digambarkan sebagai posisi tiga sudut segitiga sama sisi, di mana sudut kanan-bawah tetap sebagai posisi Bagsis-1 (bagian-sistem), sudut kiri-bawah sebagai Bagsis-2, dan sudut puncak sebagai Bagsis-3. Untuk mengawalinya maka diposisikan hati pada Bagsis-1, akal pada Bagsis-2, dan mar’i pada Bagsis-3.

Mengapa bertiga?
QS.51:49 menetapkan (menciptakan) status hukumnya berpasangan-pasangan, (bukan menciptakan substansinya); berpasangan artinya merupakan dua bagian yang berbeda. Karena ada tujuan khusus dari berpasangan itu, yaitu “agar kamu mendapat pengajaran” (tersebut pada ayat), maka logis bahwa perlu adanya standar untuk mengatur cara kedua bagian itu berhubungan. Dan memang sesuai kalimat Hawqala “Laa haula walaa quwwata illa billaah” (Tiada usaha dan kekuatan melainkan beserta Allah), maka seakan-akan standar tersebut merupakan “penyertaan Allah” dalam trio tersebut.

Mengapa terstruktur?
Dalam sistem organisasi/perusahaan yang besar maka standar dimaksud biasa disebut SOP, guna menjaga keteraturan dalam system tersebut, seperti yang berikut :”A group of things or parts working together in a regular relation (Oxford Advance Learner’s Dictionary). Demikianlah, maka pasangan dua nafsu setelah hadirnya akal sebagai standar akan menjadi kurang sesuai jika masih disebut sebagi pasangan jiwa, karena jadi seperti meninggalkan akal sebagai “penyertaan Allah” itu. Karena itulah maka mungkin lebih sesuai disebut sebagai sistem-jiwa. Selain faktor jumlah, maka dalam istilah “sistem” tsb. terkandung adanya faktor struktur, sehingga kita dapat menetapkan profil sistem-jiwa sebagaimana telah disebutkan di atas. Adapun “mandat” penetapan struktur tsb. diterima dari QS.32:9 di mana disebutkan :”dan Dia menjadikan untuk kamu (mar’i) pendengaran, penglihatan, dan af-idah”. Af-idah di sana ialah (interaksi antara) akal dan hati, yang dijadikan Allah subordinate bagi mar’i (pimpinan sistem, khalifah).

Kondisi masing-masing Bagsis :
Bagsis-1 : Hati (nafsu syahwat) mempunyai kehendak, yaitu ingin kepada apa yang mudah, yang ringan, yang menyenangkan : wanita, anak-anak, kekayaan berupa kendaraan, rumah, tanah, dsb (QS.3:14). Hati menangkap/membaca adanya stimulus pada dimensi rasa (emosi) sebagai hal yang menyenangkan ataukah tidak, mudah atau sulitnya atau berat/ringannya untuk mendapatkannya, sehingga dia mengingini atau tidak mengingininya (jadi tidak membaca benar atau salahnya). Tetapi hati juga dapat merasakan indahnya kebenaran, tenangnya kebenaran pada hasilnya yang telah dijalani/dialaminya, atau dengan kata lain hati dapat merasakan kebenaran meskipun tidak dapat mengerti logikanya kebenaran.  

Bagsis-2 : Akal, sebagai standar mengetahui kebenaran secara logika, tetapi tidak mengerti rasa kebenaran. Kerja akal ialah menerima data/informasi, menyimpannya dalam memori, mengeluarkan kembali (mengingat), menganalisa dan menyimpulkan sebagai konsep. Akal tidak memiliki kehendak, maka akal baru bekerja apabila ada perintah dari mar’i. Akal bekerja secara transparan, objektif, dan akal dapat disuruh untuk menyusun konsep kebenaran maupun konsep kejahatan, tergantung perintah mar’i.

Bagsis-3 : Mar’i (nafsu ammarah) mempunyai kehendak, dalam hal sesuai tugasnya ialah mengambil keputusan (menentukan pilihan dari alternatif yang ada, mengikuti keinginan hati ataukah mengikuti rekomendasi kebenaran dari akal). Mengambil keputusan sistem-jiwa adalah perintah mengerjakan secara fisik kepada sistem-tubuh, (atau “menyuruh” seperti dimaksud pada QS.12:53).   

Sesuai azas sistem (yaitu dua yang berbeda), maka perbedaan antara mar’i dengan hati juga didukung oleh QS.8:24. Kalau mar’i berorientasi pada rasa takut/tidak takut, maka hati berorientasi pada rasa senang dan tidak senang. Kedua kata tersebut (tidak ada ketakutan dan tidak (pula) berdukacita) disebut secara berturut pada beberapa ayat (QS.2:38, 112, 274, 277; QS.3:170; QS.6:48, dsb).

Operasional sistem-jiwa :
Output dari sistem-jiwa adalah keputusan sistem yang merupakan fungsi dari mar’i, berasal dari keinginan hati dan recomendasi akal (standar). Keputusan sistem itulah yang disebut n i a t bila disertai dengan langkah awal secara fisik dari sistem-tubuh, dan apabila merupakan program maka disebut rencana (relatif). Program/rencana pada pelaksanaannya terdiri atas target-target yang relatif lebih pendek ke arah operasional. Hal itu pada umumnya baru berlaku pada lembaga pemerintahan atau organisasi yang lebih teratur. Pada pribadi-pribadi (perorangan) masih sangat terbatas dilakukan orang, padahal itu merupakan  langkah yang sangat startegis untuk dijadikan Budaya Hidup Berprogram menuju Pribadi Mandiri, salah satu aspek dari kemajuan akhlak Muslim. Keputusan-sistem secara umum (bukan niat aplikasi) disebut persepsi (pemahaman, kesan, pendapat). Persepsi yang proporsional tentang sesuatu hal adalah sangat penting sebagai landasan langkah operasional yang positif nantinya. Contoh : Pengertian “berpasangan” pada QS.51:49 dipahami hanya sebatas pasangan laki-laki dengan perempuan, kaya dengan miskin, halal dengan kharam (mungkin ada lainnya lagi semisal itu). Tetapi nampaknya tidak menjangkau pemahaman tentang pasangan antara shalat dengan kehidupan, khususnya shalat jamaah dengan organisasi sebagai sistem-analogis (kehidupan hendaklah dijalani seperti aturan shalat), sehingga tidak mudah melihat bahwa kesombongan itu menghapus seluruh amal sampai hari itu seperti hapusnya seluruh rakaat shalat yang telah dilalui, tidak terlihat cara mengontrol pemerintah yang lebih cerdas dan dewasa dengan menyampaikan konsep problem solving yang diingini masyarakat (unjuk pikir) daripada unjuk rasa (emosional) yang desktruktif (fisik dan politis), seperti yang diajarkan dalam aturan mengontrol imam. Dan banyak lagi ajaran yang terlalaikan, karena persepsi yang kurang proporsional dimaksud.

Mar’i pada dasarnya adalah sok kuasa mengumbar kesempatan (QS.12:53), kecuali yang mendapat rahmat, yaitu apabila mengambil keputusan dengan kesengajaan yang besar (niat yang kuat) untuk mendengarkan objektivitas akal yang Islami (akal nurani, umumnya disebut hati nurani). Jadi seharusnya bertanya kepada akal tentang kebenaran dan bijak minta persetujuan hati untuk keikhlasan, dan jangan bertanya kepada hati dan menyuruh akal untuk memikirkan caranya agar keinginan hati itu tercapai. Sebagaimana miniaturnya dalam shalat, maka akal (otak) selalu berada didepan hati (dada). Itulah af-idah  (akal dan hati, Bagsis-2 dan Bagsis-1) dengan pimpinan mar’i (Bagsis-3) sang khalifah. Ada pendapat bahwa pemikiran itu ada di dalam hati, maka mungkin itu sebabnya pemikiran disebutnya hati-nurani. Jika objektivitas sudah berada dalam hati, maka itulah jiwa yang tenang (nafsul muthma-innah).   

Namun pada manusia umumnya hal itu justru sebagai prestasi perjuangan sepanjang hidupnya, sebagai proses pendidikan pribadi yang seharusnya dijadikan persiapan untuk kehidupan yang sebenarnya di akhirat kelak (la hiyal hayawaanu, QS.29:64). Disimpul-kan, bahwa kehidupan dunia ini sebenarnya adalah proses pendidikan pribadi sepan-jang hayat, dan harta kekayaan dan sebagainya adalah sebagai alat peraga pendidikan belaka (bukan tujuan/terminal). Mereka yang persepsinya seperti itu, maka mungkin tidaklah sulit untuk menerima perkiraan bahwa kehidupan yang sebenarnya di akhirat (surga) akan diwarnai oleh proses belajar, karena belajar itu adalah wujud kecintaan/ perhatian kita kepada Allah, dan itu sangat indah dan lebih nikmat daripada nikmat lainnya (makanan, minuman, pakaian, kehidupan suami-istri, rumah) yang sudah lebih indah dari-pada apa yang ada di dunia dahulunya. Keindahan wajah Allah yang berupa ketidak-terbatasan,  “lau kaanuu ya’lamuun  (kalau mereka mengetahui)” (QS.29:64). 

Jadi inti/pokok operasional sistem-jiwa adalah mendidik diri selama hidup, menjawab tantangan penuh kasih sayang dalam QS.32:9 :”Sedikit sekali kamu bersyukur”, meskipun kalimat itu tidak akan berubah sampai kapanpun.
baca selengkapnya »»