Hidup, Belajar, dan Mengabdi
:
QS.51:56 :”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka meng-abdi kepada-Ku”. Karena memang tujuan
penciptaan manusia adalah untuk mengabdi, maka Hidup Yang Mengabdi adalah
persoalan efektivitas. Sebagai indikatornya (tanda bukti), maka untuk
menebus keberhasilannya (pada waktu sudah menjadi sesalan) adalah segalanya
selain dirinya (sekiranya bisa), seperti disebut pada QS.70:11 – 15. Sedangkan
kaitan antara Mengabdi dengan Belajar
ialah persoalan efisiensi, di mana Mengabdi ada-lah pokoknya
(variabel-tetap) dan Belajar sebagai variabel-bebasnya, terlihat dari maksud
QS.58:11 :”Allah akan meninggikan
orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu
beberapa derajat”.
Dari tinjauan
sistem-jiwa, yaitu hati (mau), akal (tahu), dan mar’i (mampu), maka Allah tidak
menuntut manusia apa yang di luar tahu-nya
dan di luar mampu-nya, tetapi tidak
alasan untuk tidak mau-nya. Jadi
persoalan Mengabdi adalah keharusan (ikhlas), sedangkan persoalan Belajar
adalah hanya dituntut sebatas tahu dan mampu-nya saja (QS.2:286). Tetapi Allah
Maha Mengetahui sampai di mana batas tiap-tiap orang tentang itu, maka
janganlah kita tidak mau-tahu (tidak mau belajar).
Disimpulkan, bahwa dalam
penilaiannya itu tergantung pokoknya, maka barulah ilmu berperan mempertajam /mempertinggi
beberapa derajat sesuai kemampuannya. Dan bukan dibalik, terbukti dengan makna
QS.29:69 bahwa siapa saja (meskipun non-Islam) yang bersungguh-sungguh pasti
diberi jalan ilmu, namun bila tidak diteruskan sampai ke asal ilmu, yaitu Allah
(ber-arti masuk Islam), maka Allah tidak menyertainya lagi (berarti hanya
diambil nilai dunia-nya saja). Kesimpulannya : Mengabdi Yang Belajar
(bukan belajar yang mengabdi).
Mengabdi adalah mematuhi aturan
Allah dengan keputusan sendiri, artinya ikhlas karena
mengerti (secara ilmiah memang harus demikian). Belajar dalam konteks ini meliputi teori dan prakteknya, atau
melibatkan ketiga bagsis dalam sistem-jiwa (akal, hati, dan mar’i). Keputusan
sendiri (mar’i sendiri) artinya tidak bertaklid, ikhlas hatinya sepenuhnya
karena Allah, sepanjang dimengerti oleh akalnya (bukan karena segan kepada
tetangga atau kepa-da pemimpin dsb). Patuh hanyalah kepada Allah dan kepada
Rasulullah s.a.w, sedangkan mengikut kepada pemimpin hanya apabila sesuai
aturan Allah dan Rasul, dan wajib (far-dhu kifayah) memberi koreksi secara
standar apabila pemimpin itu melakukan kesalahan.
Mengabdi terus maka
Belajar terus :
Karena tujuan penciptaan
manusia itu adalah memang untuk pengabdian, maka tidaklah logis kalau dikatakan
hanya mengabdi selama di dunia saja. Kecuali karena waktunya hidup di dunia itu
relatif sangat singkat (bila dibandingkan dengan hidup di akhirat yang kekal),
tetapi juga karena seperti dikatakan dalam QS.29:64 bahwa akhirat itu adalah kehidupan
yang sebenarnya (yang tentu saja adalah mengabdi kepada Allah). Jadi kalau
demikian, maka pengabdian itu akan berlangsung seumur hidup di dunia, dan di
akhirat juga.
Mengenai kontinuitasnya
belajar itu sendiri nampak dari penghargaan Allah seperti pada QS.2:154 dan
QS.3:169 bahwa orang yang mati dalam dinamika
perjuangan (belajar ilmu adalah jihad) di jalan Allah itu dikatakan
sebagai tidak mati (tetapi manusia hidup tidak
melihatnya). Sebaliknya pada orang yang menghentikan proses belajarnya
akan tumbuh image merasa dirinya cukup (suatu benih kesombongan), berlawanan
dengan maksud pada QS.32:9 :”Sedikit
sekali kamu bersyukur” yang dalam konteks ini dapat diartikan dengan sedikit sekali kamu belajar.
Pengabdian dengan Teknologi
Spiritual :
Di dalam berbagai labor
(kimia, pertanian, industri bermacam jenis), maka banyaknya ulangan percobaan
adalah untuk mempertinggi tingkat kepercayaan (kepastian, objektivi-tas)
terhadap sesuatu hasil percobaan yang bersangkutan. Dalam hal teknologi duniawi
seperti itu maka orang sangat objektif, tetapi apakah bersikap yang sama pula
dalam hal “percobaan labor spiritual”? Jawabnya jelas “tidak”, maka
tepat sekali bahwa Allah mem-beri kritik penuh kasih sayang dalam QS.32:9 tsb.
di atas :”Dan Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan
dan af-idah. Sedikit sekali kamu bersyukur”. Adapun pen-dengaran,
penglihatan dan af-idah itu adalah
sarana belajar (bagi manusia sebagai sebaik-baik bentuk dimaksud pada QS.95:4),
maka kritik tersebut dapat diartikan “Sedikit sekali kamu belajar”, atau
“Sedikit sekali kamu melakukan ulangan percobaan”.
Sesungguhnya
petunjuk/perintah Al Quran atau hadits itu adalah seperti layaknya paket
percobaan labor, sehingga aplikasinya adalah pengabdian jika dilihat dari
niatnya, sedang-kan dilihat dari proses intelektualitasnya, maka aplikasi
tersebut adalah suatu tahap dari siklus belajar. Ada 4
tahap dalam siklus belajar, yaitu penerimaan masalah, informasi atau petunjuk
(tahap-1), tahap-2 ialah menemukan referensi dan memutuskan niat, tahap-3 ialah
pelaksanaan niat, dan tahap-4 ialah mengambil pelajaran (menerima hikmah). Hal
ini merujuk pada QS.3:138 :”Inilah (Al
Quran) suatu informasi bagi manusia dan petunjuk serta pelajaran
bagi orang-orang yang bertaqwa”. Suatu informasi yang diperoleh akal
dari membaca atau mendengar ceramah, dan
dalam waktu relatif lama tidak diaplikasikan, maka tetap menjadi pengetahuan (teoritis, kognitif). Tetapi
jika diaplikasikan, maka barulah menjadi ilmu
bagi orang itu (pada aspek belajarnya) dan menjadi amalan (dari aspek pengabdian).
Pada sisi sistem-jiwa maka hal itu dibaca sebagai : dimengerti dengan logika
oleh akal, dialami oleh hati sebagai perasaan/emosi (seberapa menyenangkan atau
tidaknya), dan juga dirasakan oleh mar’i (seberapa memberi kesan ketenangan
atau ketakutan). Jadi belajar di sini artinya meliputi : pengertian (akal), pengalaman
hati, dan kesan (hikmah) pada mar’i.
Demikianlah yang
seharusnya dijalani sebanyak mungkin (QS.32:9), dengan menggunakan ayat atau
hadits yang relevan sebagai informasi (stimulus, referensi), sebagai pembekalan
untuk tahap baru berikutnya (di akhirat), agar berhasil dengan baik. Tanda
orang belajar ialah dapat mengambil pelajaran dari proses yang lalu sebagai landasan
keyakinan yang ilmiah untuk menerjuni tahap baru. Itulah yang dimaksud
dengan iman atau ‘ilmal yaqiin (QS.102:5). Jadi iman
merupakan pengertian (logika), kekuatan emosi dan macamnya, ketegasan sikap dalam
mengambil keputusan untuk hal baru (tertentu) yang mendatang berdasarkan hikmah
yang telah diperoleh sebelumnya.
Mengenai persoalan iman,
Al Quran menyatakan bahwa jika Allah kehendaki, maka bisa saja beriman seluruh
manusia. Tetapi itu menurut Allah adalah suatu paksaan, maka Allah tidak
melakukan hal itu (QS.10:99). Allah memberikan kebebasan kepada manusia (seba-gai
khalifah dan sebagai abdi), namun kebebasan itu di sisi Allah mengandung
tanggungja-wab yang besar (QS.10:100). Hal ini menambah jelasnya alasan mengapa
manusia itu harus belajar. Namun timbul
pertanyaan, jika dalam Pengabdian itu sudah terdapat sisi Belajar-nya, lalu apa
lagi perlunya dikemukakan konsep Hidup Yang Belajar ini? Manfaat konsep Hidup
Yang Belajar itu dikemukakan ialah sebagai wujud adanya kesadaran yang tinggi dan kesengajaan yang besar untuk meningkatkan
intensitas belajarnya dengan niat pengabdian kepada Allah SWT sesuai
yang dimaksudkan dalam Al Quran dan hadits (pengabdian yang ilmiah). Banyak
orang mengalami berbagai hal, tetapi tidak belajar apa-apa dari pengalaman
hidupnya itu (kecuali sedikit barangkali) . Dalam banyak ayat terda-pat kalimat
penutup ayat yang berbunyi :”tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.30:6, 30, QS.40:57, dsb).
Metoda Belajar
Rasulullah s.a.w. :
QS.55:1-2 :”(Allah) Yang Maha Pengasih, telah
mengajarkan Al Quran”. Maka bagaima-na caranya? Ada kalimat yang diulang
dua kali dalam QS.73:20 :”Bacalah apa
yang mudah dari Al Quran”. Maknanya ialah kerjakan apa yang paling mudah
lebih dahulu (dari Al Quran). Tetapi, bagaimana kita tahu mana yang paling
mudah itu? Maka Allah memberi kepada setiap orang masalah yang berbeda satu
dari yang lain, dan dari waktu ke waktu. Hal itu merupakan kurikulum individual
di Universitas Kehidupan ini. Masalah itulah yang membawa orang yang
bersangkutan kepada ayat referensinya masing-masing untuk masa itu. Maka itulah
ayat yang paling mudah saat itu bagi orang itu untuk diapli-kasikan (karena
sedang dibutuhkan), guna merespon masalah tsb.
Karena itu maka cara
yang demikian itu disebut sebagai metoda kontekstual (ingat istilah asbabun nuzul) dalam hal menafsirkan
ayat-ayat Al Quran. Kita mengikuti metoda yang ditempuh oleh Rasulullah s.a.w.
tentu saja dengan perbedaan tertentu secara gradual dsb. (QS.25:32-33).
Sementara itu dalam hal belajarnya, maka dengan mengaplikasikan ayat-ayat
referensi itu juga merupakan metoda belajar yang disebut Learning By Experiencing (Belajar Dengan Mengalami). Mungkin saja
ada cara lain, maka jika pembaca berkenan sudi kiranya disampaikan untuk
menambah pemahaman kita bersama. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih
banyak.
Bersama membangun
unit-unit jariyah :
QS.53:39 :”Dan bahwa bagi manusia hanyalah apa yang
diusahakannya”. Maksudnya, bahwa setiap orang harus mandiri, yaitu bertanggungjawab terhadap segala persoalannya
sendiri. Namun hal itu tidak diartikan secara harfiah, melainkan dalam arti
nilai (tukang sepatu juga dapat memperoleh beras, sayur, baju, dsb. senilai
sepatu yang dihasilkannya). Hal itu dimungkinkan karena adanya sinergi dari tukar menukar produk antar
anggota masyarakat (telah dimudahkan dengan penggunaan mata uang) yang berlaku
mutlak (itulah perniagaan). Jika terjadi bencana alam atau peperangan yang
mengganggu jalannya pernia-gaan, maka kehidupan penduduk yang bersangkutan akan
menjadi sulit (tergantung penga-ruh isolasinya).
Tetapi bagaimana pula
halnya yang terjadi dalam hal ilmu? QS.103:1-3 :”Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan beramal saleh dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling
berwasiat dengan kesabaran”. Analoginya, bahwa saling berwasiat di situ ialah saling menjual (ilmu :
pengalaman, ke-san, pendapat) yang dalam kehidupan ekonomi maksudnya menjual barang
modal, seperti bus atau truck bagi perusahaan transportasi, mesin jahit
bagi penjahit, motor bagi tukang ojek, dsb. Sedangkan beramal saleh pada ayat itu ialah seperti : bersikap ramah, suka
menolong, pemaaf, menghargai/menghormati orang lain, yang dalam ekonomi analog
dengan menjual barang konsumsi (makanan, pakaian, perabot rumah, motor untuk
keluar-ga, dll), yaitu yang menyenangkan dan tinggal menikmati. Nampak di situ
bahwa tindakan produktif (berwasiat) supaya diintensifkan (dengan predikat :
saling), sebaliknya tindakan konsumtif itu hanya searah, yaitu kita lakukan saja
tanpa mengklaim orang lain agar berbuat baik kepada kita. Tetapi memang
kebanyakan orang dihinggapi penyakit ini (konsumerisme) : pada sisi ekonomi adalah
boros (QS.25:67), sedangkan pada teknologi spiritual adalah sombong, gengsi, gila
hormat, atau dibungkus dengan formalitas tertentu. Semuanya itu berlawanan arah
dengan sikap produktif. Konsumerisme membawa kerugi-an, sedangkan sikap produktif
membawa keberuntungan.
Berdasarkan analogi
tersebut di atas, maka kiranya dapat diterima gagasan untuk memben-tuk semacam
“pasar ilmu”, yaitu berupa
kelompok-kelompok diskusi yang bisa terdiri atas para jamaah masjid, para
anggota majelis taklim, para alumni tertentu, para pegawai perusahaan atau
instansi pemerintah, dsb. Ciri khas pasar-ilmu tersebut adalah intensitas yang
tinggi dari “saling menjual” pengalaman (pendapat, kesan) dari setiap
pribadi anggo-ta kelompok diskusi ybs. secara bergilir sedemikian rupa, sehingga
mendorong setiap pri-badi itu untuk mandiri, khususnya dalam Hidup Yang Belajar
ini. Sementara metoda searah dengan mendengar ceramah adalah seakan-akan
belanja (membeli) ilmu secara terus-menerus tanpa menjual, tidak memberikan
dorongan untuk mandiri.
Kemudian dengan saling
bertukar pengalaman (pendapat, kesan) itu maka masing-masing pribadi mendapat
kesempatan yang baik untuk mengambil materi sesuai kebutuhannya untuk
melengkapi teknologinya (membangun dirinya sebagai unit jariyah). Sedangkan materi
yang dijualnya dan dimanfaatkan oleh orang-orang lain itu merupakan investasinya
pada pembangunan unit-unit jariyah yang
lain (tetangganya) yang tentunya menghasilkan “fee” bagi si investor tersebut
(meskipun si investeor itu sudah meninggal). Maka demiki-anlah “pasar-ilmu”
merupakan cara bekerjasama membangun unit-unit jariyah (pribadi-pribadi yang
bertaqwa) yang cukup efektif, seperti dimaksud pada QS.5:2 :”Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan
dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbu-at dosa dan permusuhan. Dan
bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. Tolong-menolong
maknanya timbal-balik (saling menolong). Dalam satu hal si A lebih mengetahui,
tetapi dalam hal lain mungkin si B yang memimpin. Tanpa mengisi dengan
kesengajaan yang besar untuk kebaikan dan taqwa (seperti membangun
“pasar-ilmu”), maka kehidupan akan menjadi pasar gengsi dengan sendirinya yang
akan diramaikan dengan saling balas yang menyulut permusuhan. To be or not to be.