Selasa, 14 Agustus 2012

PARADIGMA SISTEM

 Pengertian Paradigma Sistem :
Segala sesuatu diciptakan berpasangan supaya kita mendapat pengajaran (QS.51:49). Dan QS.96:1 menyuruh, agar kita memandang (segala sesuatu itu) sebagaimana diciptakan itu (yaitu berpasangan). Maka yang dimaksud dengan Paradigma Sistem itu ialah pelaksanaan cara pandang sesuai kedua ayat tersebut.
Secara skematis dalam penggambaran sistem (baca Tema-2 Sistem Jiwa), di mana standar sistem selalu diposisikan pada Bagsis-2 dan kedua bagian lainnya diposisikan pada Bagsis-1 dan Bagsis-3, maka Paradigma Sistem ialah cara pandang dari sudut Bagsis-2 (posisi standar), dan memandang ke arah kedua Bagsis tersebut bersamaan. Itu adalah cara pandang yang objektif, karena standar adalah “penyertaan Allah” dalam setiap sistem.

Referensi :
Dengan Paradigma Sistem tersebut, maka pengertian cara pandang tersebut meliputi cara memandang dan selanjutnya cara memperlakukannya. Dengan demikian maka dapat dirangkai sbb : Allah telah menciptakan segala sesuatu sebagai sistem dengan tujuan agar manusia mendapat pengajaran (QS.51:49). Maka pandanglah dan perlakukanlah segala sesuatu itu sebagai sistem (QS.96:1), yaitu dengan cara menghubungkan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (QS.13:21), dan jangan memutuskan apa yang diperintahkan Allah supaya dihubungkan, karena itu adalah merusak sistem di bumi, bagi mereka itu laknat dan seburuk-buruk tempat tinggal (QS.13:25). Maksudnya, janganlah memandang dan memperlakukan sesuatu dengan Paradigma Parsial (terpisah).

Azas sistem :
Yang terpenting ialah azas perbedaan, karena makna berpasangan (QS.51:49) adalah dua yang berbeda, dan kemudian azas kewajiban, artinya mengoperasikan sistem adalah wajib hukumnya (perintah Allah pada QS.96:1 dan QS.13:21).

Jenis-jenis hubungan sistem :
Jenis sistem maksudnya ialah macam sifat hubungan antara kedua pasangan (sistem), seperti :
a). Sistem analogis/qiyas (contoh : shalat – kehidupan, shalat jamaah – berorganisasi).
b). Sistem komplementer (contoh : urusan pribadi – urusan umum, fikih – tasawuf).
c). Sistem sinergis (contoh : makmum – imam, suami – istri, sistem jiwa – sistem tubuh).  
d). Sistem pilihan mutlak (contoh : halal – haram, benar – salah).

Cara penamaan sistem :
Nama sistem menunjukkan apa Bagsis-Bagsisnya. Ada beberapa cara penamaan sistem, seperti :
a). Penggabungan Bagsis-Bagsisnya : Sistem-jiwa (hati, akal sebagai standar, mar’i), Sistem-pribadi (sistem tubuh, standar, sistem jiwa), Sistem shalat jamaah (makmum, aturan shalat jamaah sebagai standar, imam), Sistem-keluarga (istri dan anak-anak, aturan berumah-tangga sebagai standar, suami), dsb.
b). Penyebutan pasangannya : Sistem Shalat – Kehidupan, Sistem Suami – Istri, Sistem Shalat Jamaah – Berorganisasi.
c). Penyebutan urusannya : sistem peredaran darah, sistem transportasi, sistem penerbang-an, sistem administrasi, sistem pemerintahan.

Operasional Pemanfaatan Paradigma Sistem :
a). Cara pandang sistem adalah objektif, karena merupakan kandungan standar. Inilah yang dimaksudkan dengan “pengajaran” yang dijanjikan Allah dalam QS.51:49 :”Dan Kami ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan supaya kamu mendapat pengajaran”. Itu adalah mengenai hubungan antara kedua Bagsis lainnya (baca Tema-2 Sistem-Jiwa), yang dikatakan bahwa seakan-akan standar itu adalah “penyertaan” Allah di dalam setiap sistem (sesuai kalimat Hawqala).  

b). Kita akan coba membahas hubungan antara kehidupan ini dengan shalat. Hiduplah  se-bagaimana shalat (sistem analogis dan juga kausalitas); itulah aqiimish shalaah. Shalat far-dhu berjamaah di masjid untuk (membina) urusan-umum, terutama disiplin ke-luar (me-nepati waktu, menepati janji, tegur-sapa, tolong-menolong), dan dalam konteks ini yang sangat penting ialah keberanian menyampaikan saran, usul, koreksi kepada pimpinan atau penguasa (yang berbuat kesalahan). Kebanyakan orang dalam urusan ini adalah tidak be-rani, atau masa-bodoh, atau tidak tahu. Untuk itu dibutuhkan orang-orang yang mandiri, yang punya rasa tanggung-jawab, istiqomah, yang menempa diri dan terlatih dengan mela-kukan shalat sunat sendirian di rumah (memang untuk membina urusan-pribadi). Jadi ki-ranya masing-masing jenis shalat itu diperlukan untuk mempertajam disiplin yang berbeda, yaitu disiplin ke dalam untuk memperkuat karakter kompetitif yang penuh inisiatif (fungsi khalifah), sedang disiplin ke luar untuk memperkuat karakter kooperatif yang berlandas-kan kepatuhan (fungsi abdi).
 
c). Tetapi apabila kedua disiplin tersebut dikacaukan (dengan Paradigma Parsial atau cara pandang terpisah), maka kedua disiplin tersebut menjadi tumpul. Yang tumbuh bukan karakter kompetitif yang mandiri (bertanggungjawab), melainkan egoisme yang bersaing dalam keduniaan; dan bukan karakter kooperatif yang berlandaskan kepatuhan, melainkan kompromistik yang di sana-sini dihantui kecurigaan. Paradigma Parsial memandang baik yang serba jamaah, dan memandang buruk kepentingan pribadi, sehingga suka menyera-gamkan individu ke dalam warna mayoritas. Sementara Allah berfirman dalam banyak ujung ayat :”tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. 

d). Rasulullah s.a.w. pernah mengerjakan shalat Tarawih di masjid sebanyak tiga malam berturut-turut yang diikuti oleh orang-orang bermakmum di belakang beliau. Pada malam ke-empatnya beliau tidak datang ke masjid, dan kemudian pada pagi harinya beliau me-nyuruh orang agar mengerjakan shalatnya di rumah masing-masing saja (kecuali yang fardhu). Adapun alasan keberatan beliau jika shalat sunat Tarawih jamaah dilanjutkan pelaksanaannya di masjid ialah bahwa beliau khawatir nantinya akan berubah menjadi wajib (artinya hilanglah azas-perbedaan). Kekhawatiran beliau tersebut tentulah sejalan dengan hadits lainnya, bahwa :”Sebaik-baik shalat fardhu adalah berjamaah di masjid dan sebaik-baik shalat sunat adalah sendirian di rumah”. Hal itu semua menunjukkan adanya konsep Paradigma Sistem pada diri beliau masa itu. 

e). QS.4:103 :”Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin”. Dengan Paradigma Parsial, maka yang dapat masuk pada ayat tersebut hanyalah shalat fardhu saja, sedangkan shalat sunat tidak. Maka hanyalah dengan Paradigma Sistem kedua macam shalat itu dapat disebut sebagai kewajiban, yaitu shalat fardhu karena ditentukan Allah, sedangkan shalat sunat menjadi kewajiban bagi seseorang karena orang itu telah memprogramkannya. Program adalah janji, dan memenuhi janji adalah suatu kewajiban (sedangkan shalatnya adalah tetap shalat sunat).
Adapun analogi shalat sunat yang demikian itu ialah bahwa menjadi kewajiban kita untuk memprogram urusan/pekerjaan dengan target waktu, atau membudayakan Hidup Berpro-gram, agar kehidupan manusia ini penuh dengan vitalitas (bukan hidup menghanyut seperti buih di atas sungai). Itulah pengertian mengabdi kepada Allah seperti disebutkan dalam QS.51:56, yaitu mematuhi perintah Allah dengan keputusan sendiri (perintah manajerial). Sedangkan secara umumnya semua makhluk-Nya disebutkan sebagai bertasbih kepada Allah, yaitui patuh begitu saja tanpa ada pilihan (perintah operasional). Itulah seharusnya yang berlaku (kila ber-Paradigma Sistem) yakni kehidupan yang penuh dinamika, dengan kreativitas/inisiatif ilmiah sebagai kewajiban individual, yang sesuai fitrahnya akan sangat beragam (karena itu memang merupakan urusan-pribadi). Tetapi sayangnya telah serba di-seragamkan oleh Paradigma Parsial sedemikian rupa, sehingga sama-sama tumpul.
  
f). Esensi ibadah puasa Ramadhan bukanlah pada persoalan berlapar-lapar. Bersengaja tidak makan pada siang hari (seperti biasanya) adalah sebagai lambang dari sesuatu yang tidak biasa (sesuatu yang berbeda), seperti halnya makna aqiimish shalaah (aktualisasi dari lambang shalat). Aktualisasi lambang ke dalam kehidupan memang jauh lebih berat daripada sekedar mengerjakan ibadah miniaturnya (QS.2:45, 153, lebih berat dan perlu lebih sabar). Pada ibadah puasa, maka itulah yang disebutkan sebagai “hanya mendapat lapar dan dahaga saja”). Adapun yang dimaksud itu adalah merobah akhlak, maka pantas-lah ada hadiah Lailatul Qadar yang istimewa. Tentu saja berciri individual, sebagai hasil sinergi dari tiga Bagsis sistem-jiwa (hati, akal, mar’i), yang besarnya melebihi 1.000 bulan ibadah rutin, berasal dari 10 x 10 x 10. Dibandingkan dengan hasil sinergi dari urusan rutin pada shalat jamaah dari tiga Bagsisnya (makmum, aturan shalat jamaah, imam), yang melebihi 27 x pahala shalat sendirian, berasal dari 3 x 3 x 3. Sinergi adalah kerjasama beberapa faktor yang hasilnya melebihi penjumlahan dari faktor-faktornya; jadi artinya perkalian.

Pada Ramadhan tahun ini misalnya, maka bisa saja yang perlu dirobah (ditingkatkan) hanya masalah istiqomahnya saja (mar’i), bisa juga masalah keikhlasan hati saja (misalnya mengenai Paradigma Sistem). Sedangkan persoalan kognisi sebaiknya dipersiapkan sebelum Ramadhan. Tetapi kenyataan di masyarakat pada umumnya berbeda, yaitu Ramadhan dipersepsi sebagai masa boom pahala, sehingga ramainya amalan selama Ramadhan akan merosot lagi dan kembali seperti sebelum Ramadhan; Ramadhan berlalu tanpa bekas. Adalah sangat dinantikan adanya sejumlah orang yang memprogramkan Paradigma Sistem diberlakukan pada suatu Ramadhan (misalnya untuk memulai shalat Tarawih sendirian di rumah). Semoga Allah memberi petunjuk kepada siapa yang serius kepada-Nya. Amin !
baca selengkapnya »»