Jiwa yang menyadari, ruh yang menghidupkan
Sesosok mayat mempunyai persamaan dengan orang yang sedang tidur, yaitu tidak bisa berkomunikasi (karena jiwanya tidak ada lagi di sana ). Tetapi ada bedanya, yaitu bahwa orang yang tidur itu masih bernafas dan nadinya berdenyut (karena ruhnya masih ada pada tubuh itu). QS.39:42 :”Allah yang memegang jiwa ketika matinya dan yang belum mati di waktu tidurnya”. Ruh pada manusia adalah sesuatu yang berfungsi menghidupkan, baik menghidupkan jiwa (batiniah) maupun yang menghidupkan batang tubuh (yang lahiriah), seumpama arus listrik yang menghidupkan TV, mesin cuci, dsb. QS.32:9 :”Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya dari ruh-Nya dan Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan af-idah. Kemudian “disempurnakan” artinya ialah dilengkapi dengan yang batiniah (jiwa); karena pada ayat 7 dan 8 disebutkan proses penciptaan fisik tubuhnya, maka penyempurnaannya (ayat 9) ialah dengan yang non-fisik (yaitu jiwa) sebagai pasangannya. Sesudah ditiupkan ruh, maka barulah dapat berfungsi (hidup), diketahui dengan adanya pendengaran dan penglihatan (bukan disebut telinga dan mata) dan af-idah. “Pendengaran dan penglihatan” dimaksudkan untuk (menunjukkan) berfungsinya fisik tubuh dan “af-idah” maksudnya untuk (menunjukkan) berfungsinya jiwa.
Dengan demikian maka orang yang sedang tidak tidur (dan tidak pingsan) itulah yang dapat menyadari (mengetahui dan merasakan) serta berkomunikasi (berbicara, berbuat, dsb. dengan adanya fisik tubuhnya), karena jiwanya ada pada fisik tubuhnya. Jadi jiwa itulah yang sebenarnya bernama si Fulan, yang harus bertanggungjawab kepada Allah nantinya, sesuai dengan kualitas dirinya apakah termasuk jiwa yang tenang (nafsul muthma-innah), nafsu lawwamah, atau lainnya. Tingkatan kualitas jiwa itu tersebut berturut-turut pada QS.89:27 dan QS.75:2. Jadi jiwa itu disebut dengan nafs (jamak : anfus) yang di masyarakat kita adalah nafsu. Demikian pula selanjutnya maka panggilan anfus tersebut dalam Al Quran ditujukan kepada si diri manusia, seperti pada QS.66:6 :”Quu anfusakum wa ahliikum naaraw..(Pelihara dirimu dan keluargamu dari neraka)”. Hanya saja dalam penggunaan sehari-hari secara praktis kata nafsu itu menjadi berkonotasi negatif, sedangkan yang semestinya dikonotasikan negatif seperti itu adalah sebenarnya hawa nafsu (hawa-nya nafsu), seperti pada QS.4:135 :”Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga kamu tidak berlaku adil (fa laa tattabi’ul hawaa an ta’diluu..)”.
Jadi jiwa itu memang substansinya (di antaranya) adalah nafsu, sedangkan sifat kecenderungan nafsu yang buruk itulah (hawa-nya) yang harus dikontrol (dikendalikan). Adalah keliru kalau dikatakan bahwa nafsu itu harus dibrantas. Dan jiwa merupakan hakikat manusia, di mana perbuatan fisik tubuh adalah perwujudan dari perbuatan jiwanya, sakit atau senangnya tubuh adalah jiwa yang merasakannya.
Kemudian pada QS.51:56 disebutkan :”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Pengertian “mengabdi” adalah menyembah/mematuhi Allah dengan keputusan sendiri, dan seseorang dikatakan mempunyai keputusan sendiri yaitu apabila orang itu mempunyai kewenangan memilih (ada alternatif); dalam hal ini alternatifnya ialah menolak (ingkar). Sedangkan pada malaikat dan makhluk lainnya tidak ada alternatif (yang lain), kecuali mematuhi apa saja yang diperintahkan Allah, dan (sehubungan itu) maka mereka bukan dikatakan mengabdi kepada Allah, melainkan “bertasbih dan memuji Allah”. Dalam konteks tersebut maka dapat dikatakan bahwa perintah Allah kepada malaikat adalah perintah operasional, sedang kepada manusia diberikan perintah manajerial.
QS.24:41 menyebutkan :”Tidakkah engkau mengetahui sesungguhnya bertasbih kepada Allah apa-apa yang di langit dan di bumi beserta burung-burung yang berbondong-bondong? Masing-masing mengetahui shalat dan tasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Malaikat itu shalatnya adalah seperti manusia shalat, tetapi binatang, gunung, lautan, matahari, dsb kita tidak tahu seperti apa shalatnya. Namun bagaimana pun (walaupun shalat juga), namun tetap saja tidak dikatakan mereka itu “mengabdi”, melainkan bertasbih dan memuji Allah.
Di atas tadi telah dikemukakan sebagian dari fungsi ruh, di mana menghidupkan sistem tubuh dan juga sistem jiwa. Perlu juga disampaikan QS.2:154 :”Dan janganlah kamu katakan terhadap orang-orang yang terbunuh pada jalan Allah (bahwa mereka) itu mati, bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadari”. Dapat diartikan bahwa ruhnya tetap bersama sistem jiwanya, namun lebih dari itu kita tidak mengetahuinya. Ini diperkuat dengan QS.3:169 :”Dan janganlah kamu anggap mati orang-orang yang gugur di jalan Allah, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya diberi rezeki”.
Makna yang lain dari ruh
Namun ada juga kata ruh dalam arti malaikat. QS.19:17 :”maka dia mengadakan pembatas (tabir) dari keluarganya, lalu Kami mengutus Ruh Kami (Jibril) kepadanya, lalu dia menyerupakan dirinya di hadapannya sebagai manusia sempurna”. Sesuai logika, kita tidak pernah mendengar tentang kematian malaikat, kecuali :”Kullu nafsin dzaa-iqatul mauti”. Jadi hanya jiwalah yang mengalami kematian. Kemudian ada juga penggunaan kata ruh sebagai wahyu, seperti pada QS.42:52 :”Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Quran) dengan perintah Kami. Engkau (sebelumnya) tidak mengerti apa Kitab dan apa iman; tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang dengannya Kami memberi petunjuk orang-orang yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami”.
Dalam pada itu QS.8:24 menyatakan :”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kamu untuk sesuatu yang memberi kehidupan. Dst”. Semua yang sedang dibahas ini menyangkut kehidupan. Ruh yang dimaksud pada QS.32: 9 ialah menghidupkan sistem-tubuh dan menghidupkan sistem-jiwa (atau sistem yang lahiriah dan sistem yang batiniah). Kemudian ruh dalam arti wahyu (Al Quran) pada QS.42:52 itu juga memberi kehidupan, tetapi dalam arti spiritual (yaitu kehidupan yang dimaksud pada QS.8:24 di atas). Dengan kata lain ruh pada QS.32:9 itu katakanlah menghidupkan dalam arti teknis, sedangkan ruh dalam arti wahyu (Al Quran) pada QS.42:52 itu menghidupkan dalam arti psikologis. Demikian persamaan dan perbedaannya, sehingga ada orang-orang yang secara teknis adalah hidup fisiknya normal dan jiwanya secara klinis normal, tetapi mati/buta jiwanya (dalam arti spiritual) tidak mau menerima petunjuk. QS.2:7 :”Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup; dan bagi mereka azab yang berat”. Maka itulah yang dimaksudkan dalam QS.8:24 di atas untuk menghidupkannya.
Hanya itulah mengenai ruh, dan selebihnya adalah :”Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah,”Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit” (QS.17:85). Dan seperti dikatakan di atas bahwa kalau disebutkanyang fisik, maka ada pasangannya yang non-fisik (jiwa), maka demikian pula bila dikatakan bahwa :”Ruh itu adalah urusan Tuhanku”, maka mesti ada pasangannya, apa itu? Kalau begitu, lalu apa urusanku? Urusanku adalah jiwaku (sebagai hakikat diri manusia), seperti disebutkan pada QS.66:6 :”Peliharalah dirimu dan keluargamu dari neraka (Quu anfusakum wa ahliikum naaraw)”. Jiwa berupa sistem yang terdiri atas dua nafsu (anfus) dan satu akal (sebagai standar).
bagus sekali
BalasHapusTerima kasih. Lebih disyukuri jika bersedia bersistem secara komplementer atau secara sinergis.
Hapus